GejayanMemanggil: Mosi Tidak Percaya!

koordinator umum sedang mengkoordinir massa aksi
Yogyakarta- kondisi politik indonesia akhir-akhir ini membuat semua orang resah, terlebih karena adanya beberapa pasal RKUHP yang dinilai tidak masuk akal serta terlalu memaksa. Mahasiswa yang tergabung dengan Aliansi Rakyat Bergerak terdiri dari berbagai macam universitas negeri maupun swasta di yogyalarta akan melakukan aksi damai pada senin 23 september 2019. Sebelum melaksanakan aksi damai tersebut terlebih dahulu beberapa perwakilan dari berbagai macam univewrsitas melakukan konsolidasi terkait teknis lapangan pada hari minggui 22 september 2019 jam 12.00 di fakultas filsafat UGM.
Aksi ini akan dilaksanakan dipertigaan Gejayan sebagai titik kumpul dan titik aksi. Pengerahan massa dibagi menjadi 3 daerah, daerah pertama berada di gerbang utama kampus sanata dharma, daerah ke tiga berada di pertigaan revolusi UIN Sunan Kalijaga, dan daerah ketiga terletak di bundaran UGM.
Untuk merespon seruan aksi tersebut, mahasiswa yang tergabung dalam Alian mahasiswa UIN Sunan Kalijaga melakukan konsolidasi dan pembacaan pada hari minggu 22 September 2019 jam 18.30 di selasar fakultas ekonomi dan binis islam. Pembacaan ini dihadiri kurang lebih sekitar 500 mahasiswa. Di pimpin oleh Dema U, Konsolidasi merupakan wujud pemahaman dan kesepakatan visi yang akan dilakukan esok harinya, serta beberapa hal yang boleh dan atau tidak dilakukan oleh massa aksi khususnya dari mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.
Melihat antusiasnya mahasiswa yang akan terjun esok harinya, dan agar menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan, melaui surat pernyataan sikap Dema-Sema FEBI bekerja sama dengan seluruh ormawa FEBI untuk mendata mahasiswa yang akan mengikuti massa aksi. Pendataan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak mahasiswa FEBI dan untuk mempermudah koordinasi ketika keadaan semakin memburuk. Tercatat ada sekitar 145 mahasiswa FEBI yang tergabung.
Pada hari seninya, halaman depan gedung multi purpose sudah dipenuhi oleh massa aksi. Rencananya massa aksi mahasiswa UIN akan bergabung dengan mahasiswa UJB, UST, UTY, APMD, STIPRAM, AKPRIND, UAD, IKAMASI dan KAMASUL-SEL. Sebelum berangkat longmarch, mahasiswa diberikan kesempatan untuk melakukan solat dhuhur dan kembali lagi pukul 12.38.
Pemberangkatan massa aksi dimulai dengan menyanyikan lagu darah juang dan buruh tani. Kemeriahan tepuk tangan dan teriakan ‘hidup rakyat’ mewarnai aksi damai kali ini. Koordinator Lapangan memastikan bahwa tidak ada penyusup diantara massa aksi dengan cara menempatkan mereka kedalam rombongan fakultas masing-masing dengan didampingi oleh koordinator fakultas.
Selama perjalan menuju titik aksi, seluruh elemen yang tergabung tak henti-hentinya menyanyikan lagu perlawanan. Solidaritas dari masyarakat jogja mulai terlihat dengan adanya warga yang membagi-bagikan minuman dan buah-buahan secara gratis.
Sesampainya di jalan Afandi massa aksi dari UGM, UNY, UII dan beberapa kampus lain sudah berkumpul, panggung demokrasi mulai didirikan, orasi kebangsaan mulai berdengung di pusat aksi. Sebagai bentuk slidaritas atas kerusakan alam yang terjadi akibat ulah tangan kotor, seluruh mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak sepakat untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan. Beberapa mahasiswa tergerak turun menjadi relawan dengan cara memunguti sampah dan menaruhnya ke dalam sampah plastik. Aksi ini pun mendapat respon positif dari mahasiswa yang lain.
Karena terbatasnya sound yang berada di panggung utama membuat massa aksi yang berada di belakang tidak mendengar seruan ataupun orasi dari perwakilan Universitas. Atas keterbatasan itu, muncullah ide untuk membuat panggu orasi sendiri di tiap-tiap rombongan. Orasi yang di sampaikan bukan dengan maksud untuk menyaingi panggung utama, namun hanya sebatas mengisi keterbatasan yang ada dengan cara menyuarakan permasalahan yang sudah di sepakati diantaranya adalah
1. jangan lemahkan KPK, tindak tegas koruptor
2. demokrasi, kebebasan berpendapat, dan pemenuham HAM. Stop represifitas dan cabut pasal karet
3. restorasi reforma agraria, perlindungan Sumber daya alam dan tenaga kerja. Tolak RUU yang tidak pro rakyat
4. restorasi kesatuan bangsa, hapuskan diskriminasi dan ketimpangan. Berikan perlindungan bagi anak dan perempuan.
Orasi diisi oleh berbagai macam perwakilan mahasiswa, tak hanya itu pembacaan puisi juga mewarnai perlawanan pada sore itu. Pukul 16.12 koordinator lapangan memutuskan menarik massa aksi UIN Sunan Kalaijaga karena puncak acara telah memasuki babak akhir, yaitu pembacaan sikap. Selama perjalanan pulang tak lupa massa aksi berterima kasih kepada kepolisian yang telah mengawal jalanya aksi sampai selesai. Tercatat pukul 17.15 massa aksi sudah bubar tanpa adanya kericuhan, bahkan jalan Afandi tidak dipenuhi sampah akibat kesadaran dari peserta aksi tentang pentingnya menjaga kebersiham. Gejayan telah menjadi saksi pada tahun 1998, dimana ada darah yang harus di tumpah, semangat akan bersatunya melawan penindasan dan tidak tunduk pada sistem yang ada. Kini kembali lagi gejalan menjadi saksi, 2019 seluruh mahasiswa memiliki kepentingan yang sama, musuh yang sama, dan harapan yang sama. Ribuan orang datang dari berbagai macam penjuru, memenuhi panggilan dari #gejayanmemanggil menuntaskan reformasi. Dari gejayan kami guncang senayan.