Cerpen : Kaos Partai

KAOS PARTAI
Oleh Solekhan
Apakah hidup ini adil? Pernah kalian bertanya seperti itu? Aku yakin pernah. Lantas apakah kalian merutuki nasib dengan kalimat hujatan atau cukup merenungi setiap hendak menutup mata pada malam hari? Kisah ini teramat sederhana, saking sederhanannya kalian bahkan bisa menebak akhir cerita hanya dari membaca judulnya saja. Namun bukan itu pointnya, sungguh bukan itu, jadi mari kita mulai kisah ini. Dalam bisingan kota metropolitan hiduplah seorang anak kecil dari keluarga sederhana. Joshua, lebih akrab dipanggil jo. Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. Ia hidup dengan satu adik dan sepasang ayah ibu. Dimana jo tinggal? Mereka tinggal di kampung pemulung dekat stasiun. Tanah luas milik pemerintah kota. Awalnya, tanah itu akan dibangun sebuah rumah sakit megah milik pemerintah. Namun karena beberapa pegawai pemerintahan sempat bagi-bagi kue, alhasil proyek triliunan rupiah itu mandek seketika. Dengan luas hampir dua hektar beberapa pemulung akhirnya menjadikan tanah lapang itu sebagai tempat peristirahatan. Mereka membangun gubuk sederhana, dengan lantai langsung tanah liat dan beratapkan seng sisa-sisa pembangunan. Ada sekitar 35 keluarga yang tinggal disana dengan profesi beragam seperti pengamen, pemulung, kuli dan pedagang asongan. Salah satunya keluarga jo, keluarga pemulung. Oiya, warga lebih suka menyebut kampung ini dengan ‘kampung hijau’, entahlah mengapa mereka lebih suka menggunakan nama itu.
Siang itu jo menyusuri trotoar jalan raya bersama lima orang teman-temannya. Dengan memanggul kain ghoni mereka pindah dari satu tong sampah ke tong sampah lain. Berlarian kesana kemari dan tertawa. Seolah memulung merupakan hal yang sangat menyenangkan.
“jo tempat sampah itu miliku. Jangan kamu ambil isinya” Reyhan berteriak sambil berlari mendekati jo.
“benarkah? Aku tidak melihat nama mu di tempat sampah ini”
Seperti biasa, mereka selalu berebut tempat sampah. Setiap tempat memiliki tempat sampahnya masing-masing, dan setiap tempat sampah memiliki keistimewaanya sendiri. Jika kalian berada di taman kota, maka tempat sampahnya lebih banyak terisi botol plastik. Maju sedikit ke daerah perkantoran, tempat sampah akan banyak berisi kertas-kertas bekas. Lalu bagaimana dengan tempat sampah didepan sekolah? Lebih banyak berisi daun-daun kering dan beberapa platik pembungkus makanan. Jo lebih suka mencari tempat sampah di belakang restoran. Jika beruntung, jo dan teman temanya bisa menemukan makanan sisa yang masih bisa dimakan. Pernah suatu kali, mereka mendapatkan satu loyang pizza penuh dengan toping keju dan sosis. Sungguh makanan yang sangat lezat sekali.
“baik sekali ya orang-orang kaya itu” Farhan mulai berceloteh sambil memakan sisa makanan yang menempel di sela-sela jari. “kok baik?”
“tentu saja orang-orang kaya itu baik. Lihatlah, mereka rela membayar makanan mahal ini lalu mereka memakan sepotong saja lantas membuangnya ke tempat sampah. Akhirnya kita bisa makan enak. Kalau saja mereka memakan semua pesanannya, kita jadi tidak bisa makan enak seperti ini”. Benar juga, serentak mereka mengangguk sepakat atas logika Reyhan. Yah orang-orang kaya itu seperti malaikat dimata anak pemulung.
“lekas selesaikan makanan mu Ogi. Setelah ini kita ke lapangan kota.”
Ogi mengangkat bahu dan menjawab “kenapa kita harus ke lapangan kota jo? Ada apa disana?” tanpa mengeluarkan suara, jo mengacungkan telunjuk kearah papan reklame besar samping jalan. Terlihat dua buah papan reklame, satu papan reklame sebelah kiri berisi himbauan untuk menjaga lingkungan dari gubernur dan papan reklame besar sebelah kanan menampilkan wajah seorang laki-laki paruh baya lengkap dengan setelan jas dan peci hitam, dibawah foto tersebut tertulis ‘kampanye akbar di lapangan pusat. Hari ini, jangan sampai ketinggalan’ terlihat berbeda memang, namun kedua papan reklame itu memiliki foto yang sama. Walaupun Jo tidak mengenyam bangku sekolah namun dia bisa mengeja sedikit. Melihat papan reklame sebesar itu dengan berbagai ornament bendera jelas sekali bahwa akan ada kampanye besar di lapangan kota. Selain tempat sampah, kerumunan manusia juga menjadi tempat favorit mereka untuk mencari barang bekas. Selain itu mereka juga bisa mendapatkan kaos partai gratis, jika beruntung mereka bisa membawa pulang bingkisan makanan.
Jo, Reyhan, Ogi, Amar dan Desi segera mengambil karung ghoni mereka dan berjalan menuju lapangan kota. Jarak lapangan kota dari tempat mereka berdiri tidak terlalu jauh sebenarnya, namun karena ada kampanye akbar menjadikan mereka harus berhimpit himpitan melewati beragam transportasi. Jalanan padat merayap, dipenuhi oleh gerombolan orang memakai baju berwarna merah bergambar kepala kerbau. Mereka bersahut sahutan meneriakan yel-yel. Beberapa mengendarai sepeda motor dengan suara knalpot yang menggelegar. Ramai sekali siang itu.
Dua puluh menit mereka sampai di lapangan kota. Lihatlah, lautan manusia telah tumpah ruah memadati lapangan, mereka serentak memakai baju merah.
“jo! Kau disini juga.”
“eh Dimas. Sudah lama kah?”
“sudah sejak pagi aku disini, lihat karungku penuh dengan barang-barang gratis” dimas adalah teman sekampung jo. Desi meminta dimas untuk membuka karungnya, penasaran sekali apa yang sudah didapatkannya dari pagi hingga siang.
“wah, banyak sekali baju partainya.”
“eh ada nasi kotak juga”
“apa isi dorprize ini? Besar sekali”
Semua mata terbelalak melihat isi dari karung Dimas. Baju, dorprize dan makanan, sungguh beruntung Dimas bisa mendapatkan semua itu. Setelah Dimas memberi tahu dimana dia mendapatkan barang-barang gratis itu, dia pulang dan meninggalkan rombongan jo. Jo dan teman-temanya langsung bergerak gesit menuju tempat yang sudah diberitahu oleh Dimas. Tubuh mereka kecil, tidak sulit untuk menyelinap dari sela-sela orang dewasa. Karung mereka bergoyang ke kanan dan ke kiri, sesekali mendapat teriakan marah karena karungnya dengan tidak sengaja menyenggol bapak-bapak gendut yang sedang menikmati es doger.
Di tengah lapangan telah berdiri dengan kokoh sebuah panggung utama yang besar dan megah. Tidak lupa disamping kiri kanan terpasang sound system dengan ukuran besar, suaranya menggelegar hingga ke langit. Jo sampai pertama di depan stand pembagian kaos partai, ia ikut mengantri dengan beberapa orang lain. Di belakangnya muncul Ogi dan Reyhan, sedangkan yang lain menuju stand yang menyediakan nasi kotak.
“silahkan pak, besok selasa jangan lupa pilih calon gubernur nomer 4 ya, dan jangan lupa juga pilih partai nomer 3 yang gambarnya kepala kerbau warna merah” Mbak mbak penjaga stand kaos ramah kepada siapapun yang datang untuk meminta kaos partai. Jo masih berumur Sembilan tahun, tentu saja dia belum bisa memilih calon wakil rakyat mereka, begitu pula dengan kawan kawannya. Apakah ia tetap boleh mendapatkan kaos gratis? Ada sedikit keraguan dan rasa takut diwajah jo.
“tenang jo, bukankah Dimas bisa mendapatkan kaos gratis? Padahal umurnya baru 11 tahun” Ogi berusaha menenangkan. Tiba giliran Jo berhadapan dengan mbak-mbak penjaga stand. Wanita itu menatap Jo beberapa detik, mungkin agak terkejut melihat anak kecil ikut mengantri pembagian kaos partai gratis sendirian tanpa ditemani oleh orang tuanya. Tidak lama, wanita itu memberikan senyum yang sama, lantas menyodorkan kaos partai yang masih terbungkus plastic seraya berkata.
“ini kaos buat kamu dek, nanti kalau pulang jangan lupa bilang ke ibu dan bapak besok selasa pilih calon gubernur nomer 4 dan untuk wakil rakyatnya pilih partai nomer 3 yang bergambar kepala kerbau nomer merah”. Jo bengong seketika, tidak menyangka jika ia tetap bisa mendapat kaos gratis. Tangan jo meraih kaos itu sambil bibirnya melukis senyum, anggukan kepala jo seolah berbisik ‘pasti kak’. Mereka mengunjungi beberapa stand lagi, dan sama seperti sebelumnya wanita penjaga stand tetap memberi mereka sambil mengucapkan kalimat yang sama.
Udara semakin panas, kepulan debu semakin membuat sesak. Matahari sudah beberapa menit yang lalu condong kearah timur menandakan waktu telah mendekati pukul 13.00. anehnya, lapangan kota semakin ramai dipadati orang-orang. Beberapa pertunjukan seni tari berlangsung diatas panggung utama. Penjaja makanan dan minuman ringan lebih sering berdatangan silih berganti. Sampah-sampah botol plastic berserakan dimana-mana, tenang, sesaat lagi sampah-sampah itu akan terangkut masuk ke dalam karung goni para pemulung. Keramaian ini merupakan berkah bagi sebagian orang. Jo dan teman-temannya memilih berteduh dibawah pohong rambutan pinggir lapangan. Mereka saling memperlihatkan hasil perburuan barang gratis, saling membandingkan satu sama lain. Ogi membuka plastic berisikan baju partai, baju itu berwarna merah dengan sebuah logo bergambarkan kepala kerbau di bagian dada sebelah kiri. Di belakangnya tergambar foto calon gubernur dengan pose tersenyum lebar, di bawahnya tertulis jelas semboyan mereka ‘tidak mau ganti gubernur, aku pilih ini saja, merakyat, adil dan selalu hadir untuk rakyat’. Tentu saja ogi tidak mengetahui makna kalimat itu. Bagi mereka mendapat baju gratis sudah lebih dari cukup.
“coba kau pake gi”
Ogi memakai kaosnya. Sempurna sudah kaos partai menutupi tubuh Ogi sampai ke lutut. Lihat! tampilan Ogi lebih mirip orang-orangan sawah sekarang. Mereka tertawa melihat penampilan ogi. Ukuran baju partai itu memang dibuat untuk orang dewasa, bukan untuk anak berusia Sembilan tahun. Ogi pun ikut menertawakan diri sendiri.
“tidak apa-apa Ogi, kata bapak ku kalau kita punya baju besar bisa dipakai sampai dewasa. Kaos partai ini akan aku pakai kalau aku sudah sebesar bapak”. Jo benar, tidak ada salahnya memiliki kaos ini, toh lima tahun kedepan ia tidak perlu membeli kaos lagi.
“bapak dan ibu sekalian” suara itu berasal dari pangung utama. Sang calon gubernur sekaligus gubernur saat ini telah berada disana, didampingi beberapa orang yang mungkin para petinggi partai. Semua perhatian tertuju kearah panggung, jo dan yang lain ikut menatapnya dari bawah pohon rambutan.
“selama beberapa tahun ini kita telah berhasil menjadikan kota ini sebagai kota yang maju, lebih maju dari beberapa tahun sebelumnya. Lihatlah Gedung-gedung menjulang tinggi, semua itu karena para investor perusahaan telah yakin menanamkan modal untuk bersama mengembangkan kota kita. Jangan kawatir bapak ibu tidak bisa mendapatkan pekerjaan, saya yang akan menjamin bahwa setiap anak muda akan mendapatkan pekerjaan yang pantas” gemuruh tepuk tangan terdengar serentak, para penonton bersorak riang. “angka kemiskinan di kota kita telah turun lima persen dalam setahun, mengapa bisa demikian? Karena kami akan membuka lowongan sebanyak mungkin. Tanah-tanah yang terbengkalai kami sulap menjadi hotel, pabrik, penginapan, mall, taman bermain dan Gedung perusahaaan. Dengan bertambahnya wisatawan yang datang ke kota kita akan memberikan banyak peluang bagi siapapun untuk mencari pekerjaan. Harapannya kota ini akan menjadi kota terbaik se nasional kalau perlu sedunia. Tentunya semua progress ini membutuhkan waktu yang lama, satu, dua atau tiga tahun tidak cukup untuk mewujudkannya, oleh karena itu pada hari selasa besok beri dukungan kepada kami untuk kembali memimpin kota ini. Beri kami dukungan untuk mewujudkan cita-cita kita bersama. Karena saya berjanji jika saya terpilih lagi maka hal utama yang akan saya lakukan adalah untuk kesejahteraan rakyat” tepuk tangan kembali terdengar, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
“ternyata ada yang lebih baik dari orang kaya”
“siapa han?”tanya ogi
“ya siapa lagi kalau bukan bapak itu, yang tadi bicara. Kalian dengar kan, dia punya cita-cita yang bagus. Kalau kita sudah besar kita tidak perlu susah-susah mencari pekerjaan, bapak itu sudah menyediakan pekerjaan untuk kita” Reyhan menjelaskan dengan bersemangat.
“oh iya benar kata reyhan. Besok ketika kita besar tidak perlu lagi memulung. Ah aku ingin kerja di Gedung itu” Desi menunjuk gedung megah di ujung sana.
“aku mau minta pekerjaan jadi pilot”
“memangnya kamu bisa menerbangkan pesawat?”
“tidak, hahahaha” mereka tertawa terbahak-bahak, hingga jo berkata “kalau begitu kita harus memberitahukan kepada ibu dan bapak agar besok selasa memilih bapak itu untuk menjadi gubernur lagi, seperti yang diminta mbak-mbak penjaga stand”. Semuanya mengangguk, sepakat dengan usulan jo. Mereka memutuskan untuk pulang ke kampung hijau. Sepajang perjalanan mereka berceloteh tentang masa depan, berangan angan tentang masa dewasa yang sepertinya menyenangkan dengan segala kesibukan pekerjaan. Rasanya, masa depan mereka terlihat cerah jika dipimpin oleh gubernur itu. Sebagai bentuk dukungan, akhirnya mereka memakai kaos partai sepanjang jalan pulang. Kini, jo dan kawan-kawanya sempurna menjadi pusat perhatian. Lima orang anak kecil berjalan beriringan dengan memakai kaos partai ukuran dewasa yang menutupi seluruh tubuh mereka sampai lutut. Lucu sekali.
Tiba di tikungan masuk kampung langkah mereka terhenti seketika. Kampung hijau ramai dipenuhi oleh orang-orang berseragam coklat dan oren. Terlihat beberapa truk besar dan alat berat menuju kampung mereka. Ada apa ini, kira-kira itulah makna dari tatapan mereka. Jo melihat ayahnya, mereka bersama orang tua yang lain bergandengan tangan membentuk pagar hidup berusaha menghalangi para petugas berseragam dan alat berat memasukin Kawasan perkampungan. Cacian dan umpatan keluar dari kedua kubu, jo berlari kencang diikuti oleh Desi, Reyhan, Ogi dan Amar. Mereka lupa jika sedang memakai baju partai, hal ini membuat Jo tersungkur karena kakinya terlilit kaos. Kepalanya menyentuk tanah berkerikil, ia berteriak kesakitan. Ogi yang berada dibelakangnya segera membantu jo berdiri, iada setetes darah segar mengalir dari pelipis jo. Mereka Kembali berlari mendekati kerumunan.
“kami sudah bertahun tahun hidup di kampung ini pak. Bukan kah selama ini kami tidak absen sedikitpun untuk membayar uang sewa. Lantas kenapa kalian mau menggusur kami?” bapak ogi berusaha menjelaskan dengan nada setenang mungkin.
“tanah ini bukan milik bapak, ini milik pemerintah dan tahun ini bapak gubernur akan menghidupkan Kembali proyek rumah sakit, jadi kalian tidak bisa tinggal disini lagi. Ini perintah langsung dari pak gubernur”
Jo berhasil menembus kerumunan orang-orang berseragam, kini dia memeluk ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“bu mereka siapa? Kenapa mereka mau mengusir kita?”
Ibu jo tidak menjawabnya, ia terus memeluk adik jo dalam gendongan yang sedari tadi menangis. Disamping itu, aksi dorong-dorongan terjadi, orang-orang berseragam kehilangan kesabaran menghadapi penduduk kampung. Kekisruhan segera terjadi, teriakan marah, umpatan cacian, hingga jual beli pukulan mewarnai sore itu. Para ibu segera mengajak anak mereka menjauh dari lokasi, laki-laki dewasa tetap bersikeras untuk mempertahankan rumah mereka. Apa yang terjadi setelah itu? Aku rasa kita semua paham akhirnya, orang-orang berseragam akan melakukan apapun untuk mengusir penduduk kampung pemulung, karena itulah mereka dibayar. Sedangkan penduduk kampung mereka terpaksa pergi meninggalkan tanah yang telah membesarkan mereka, tempat mereka bermain dan tempat mereka menggantungkan hidup. Jo dan beberapa warga lainnya hanya bisa melihat rumah sederhana mereka dilindas habis alat berat, rata dengan tanah. Jo meneteskan air mata bercampur dengan keringat hingga membasahi kaos partai yang beberapa jam lalu sangat dia banggakan. Puluhan kilometer dari tempat penggusuran, tepat di lapangan kota, calon gubernur sekaligus gubernur yang menjabat saat ini masih berorasi dengan lantang tentang pentingnya menghilangkan ketimpangan antara si kaya dengan si miskin.
Apakah hidup ini adil? Tentu saja. Tuhan tidak akan menggariskan hidup seseorang hanya untuk memberikan kemalangan. Setiap orang berhak untuk merubah nasibnya sendiri dan biarkan Tuhan menjalankan kehendaknya. Jo adalah seorang anak sederhana, ingin hidup sederhana dan tidak ingin terlibat lebih jauh pada permainan politik. Namun kejadian hari itu membuat pribadi Jo berubah, pandangannya tentang kepemimpinan, pemerintahan dan kekuasaan pun ikut berubah. Siapa yang tau, dimasa depan Jo menjadi pemimpin partai dengan lambang bintang biru danmenguasai tataran pemerintahan. Membabat habis seluruh koruptor dan menjadikan negara ini sebagai negara dengan tingkat kemakmuran tertinggi di dunia. Sungguh tidak ada yang tau masa depan. Teruslah jalani hidup dan biarkan semesta bekerja sebagaimana mestinya.