Discussione di Routine : Langkah Awal Pengembangan Intelektualisasi Mahasiswa FEBI

narasumber memaparkan materi yang dipandu oleh moderator
DEMA FEBI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Selasa (21/03/2023), Ruang diskusi mahasiswa merupakan hal yang umum dalam dunia perkuliahan. Tetapi semenjak pasca pandemi Covid-19 ruang-ruang diskusi mahasiswa semakin hilang ditelan zaman. Atensi mahasiswa untuk menghidupkan ruang diskusi dalam kelas maupun luar kelas seakan menjadi nostalgia belaka di periode ini. Merespon hal tersebut, DEMA FEBI UIN Sunan kalijaga meluncurkan program Discussione di Routine untuk memberikan ruang diskusi dalam rangka intelektualisasi untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam secara khusus dan seluruh civitas akademika UIN Sunan Kalijaga secara umum.
Discussione di Routine merupakan program kerja yang dirancang oleh Departemen Aksi dan Riset Strategis. Discussione di Routine jilid I diselenggarakan di teatrikal lantai 5 FEBI dengan dengan membawakan tema, yaitu: "Aktualisasi Mahasiswa Dalam Mempersiapkan Tahun Politik 2024", yang menghadirkan dua aktivis hebat sebagai narasumber, yakni: Bung Eko Prasetyo (Social Movement institute) dan Bung Andi Redani Suryanata (Korbid Kajian Strategis Forum BEM DIY), yang di pandu oleh sahabat Agil Lesmana (Dep. Aksi dan Riset Strategis DEMA FEBI) sebagai moderator.
Sebelum memasuki sesi pemaparan materi, moderator memperkenalkan jargon dari Bidang Sosial dan Politik yaitu Tempo di Cambiare (waktunya berubah). Moderator menjelaskan mengapa Bidang Sospol membawa jargon ini, dia menjelaskan ini merupakan semangat perubahan dan komitmen dari sospol untuk progresif dalam semua aspek. Dengan tujuan tersebut, Bidang Sospol akan menjadi aktor utama dalam membawakan peran mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control.
Materi pertama dalam Discussione di Routine jilid I ini adalah Gerakan Mahasiswa yang dibawakan oleh Bang Andi. Beliau membawakan gambaran umum, sejarah dan aktualisasi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa dapat membangun kesadaran masyarakat terhadap isu-isu sosial dan politik serta memberikan alternatif solusi untuk permasalahan yang ada, selain itu gerakan mahasiswa juga dapat memperjuangkan perubahan sosial yang lebih besar, seperti perubahan struktural dan sistematik dalam masyarakat dan negara. Gerakan mahasiswa itu terbagi menjadi gerakan moral atau politik. Awal mula adanya gerakan moral disebabkan karena tiga hal yakni bertambahnya mahasiswa namun penyediaan kurang / dibatasi, terdapat kesenjangan sosial, dan maraknya korupsi. Gerakan ini adalah suatu gerakan yang tanpa pamrih, seharusnya gerakan mahasiswa harus menerapkan gerakan moral ini. Namun, sayangnya pada saat ini gerakan mahasiswa tidak terdeteksi di rezim sekarang.
Melihat kondisi saat ini bisa dikatakan bahwa mahasiswa saat ini kurang dalam berdemokrasi. Contohnya seperti, BEM saat ini kurang konsolidasi internal dalam permasalahan yang terjadi sekarang ini, Perlunya adanya sosialisasi terhadap internal yang sistematis guna mengaktualisasi peran mahasiswa untuk menyalurkan pendapat di kalangan umum.
Dalam diskusi selanjutnya, Bang Eko mempertegas keadaan tersebut dalam materinya yang bertema 'Politik Praktis' mengatakan bahwa saat ini gerakan mahasiswa mengalami 3 persoalan penting, yakni:
-
Dukungan dari mahasiswa yang minim untuk ikut terjun dalam permasalahan politik.
-
Kecenderungan universitas untuk membatasi gerakan mahasiswa. Hal ini dikarenakan oleh beberapa tuntutan mahasiswa selalu tidak sesuai dengan aturan kampus yang otoriter menyebabkan ruang kebebasan politik semakin menyempit. Ruang kebijakan politik semakin kecil/ sempit sehingga mahasiswa semakin sulit untuk berargumentasi.
-
Universitas terpolarisasi. Polarisasi politik memiliki definisi dua kelompok dengan pandangan berbeda dalam berpolitik. Hal ini memberikan dampak bahwa mobilitas kampus bukan lagi menjadi seorang intelektual tetapi menjadi seseorang yang memiliki jabatan.
Mengatasi hal tersebut, Bang Eko memberikan sarannya bahwa jika ingin membangkitkan gerakan mahasiswa, penting untuk melakukan konsolidasi dan menumbuhkan kesadaran mahasiswa terhadap penting nya demokrasi. Timbulnya apatisme menyebabkan berkurangnya SDM mahasiswa. Mahasiswa tidak bergerak karena tidak memiliki kepentingan, untuk membangkitkan kesadaran mahasiswa terhadap apatisme yakni membuat strategi agar mahasiswa melihat secara nyata bahwa adanya masalah yang perlu dihadapi. Contohnya seperti Melakukan gugatan atas UU yang tidak sesuai dan melakukan konsolidasi kolektif masyarakat bahwa UU tersebut memberikan ancaman. Ketakutan saat berpendapat tentang politik merupakan salah satu masalah yang harus dihadapi. Menanamkan kesadaran mahasiswa dengan sosialisasi internal guna membangun kepercayaan mahasiswa terhadap demokrasi untuk memperluas politisi dan memberikan beberapa perlawanan. Kondisi kebangkitan mahasiwa tersebut akan hadir apabila adanya krisis baik itu krisis ekonomi, krisis kepercayaan, dan krisis peraturan terhadap institusi publik. " Jika ingin membangkitkan peran mahasiswa dalam berpolitik perlu keyakinan akan pentingnya demokrasi"
Dengan pemaparan dari dua Narasumber hebat ini sudah sangat jelas bahwasannya gerakan mahasiswa sangat diperlukan untuk mengontrol kebijakan-kebijakan dari birokrasi kampus maupun kebijakan dari pemerintah. Di akhir diskusi moderator menutup diskusi dengan kutipan dari Soe Hok Gie (Aktivis Indonesia Tionghoa 1942-1969), “Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah”.
News writer by : Jurnalistik × Riset dan Aksi (DEMA FEBI 2023)