RESUM JURNAL EKONOMI EDISI 1
RESUM JURNAL EKONOMI
Oleh: Nurjanah[1]
Identitas JurnaL
A. Judul : Pengaruh Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Terhadap Permintaan Uang M1 Indonesia, Estimasi Data Non Stasioner
B. Penulis :Etty Puji Lestari
C. Sumber :Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol 10 No 2, Agustus 2005 Hal: 143-155
Pembahasan
Dalam teori perilaku permintaan uang terdapat satu benang merah yang mengkaitkan antara hipotesis satu dengan lainnya, namun yang paling signifikan, dari seluruh teori itu kemudian digeneralisasi kedalam sebuah dalil atau kesepakatan tentang adanya stabilitas hubungan antara variabel-variabel ekonomi yang penting dan stok permintaan uang. Teori permintaan uang Klasik menganggap bahwa uang tidak memiliki pengaruh terhadap sektor riil, suku bunga, kesempatan kerja dan pendapatan nasional.
Semua teori ekonometri mengasumsikan bahwa data digambarkan dengan distribusi yang stasioner, dengan kata lain, data runtun waktu (time series) dikatakan non stasioner jika rata-rata (mean), variance dan covariance tidak konsisten sepanjang waktu. Adanya kondisi non stasioner menunjukkan bahwa secara teoritis ada masalah dengan stabilitas. Stabilitas merupakan syarat utama dari stasioneritas data, terutama data time series. Kondisi non stasioner terjadi jika nilai rata-rata (mean), variance dan covariance yang tidak konsisten sepanjang waktu. Stabilisasi pada data time series berhubungan erat dengan stabilitas ekonomi makro. Jika ada permasalahan yang berhubungan dengan variabel non stasioner maka hasil estimasi mengalami regresi lancung (spurious regression atau spurius correlation problem).
Teori permintaan uang Klasik menganggap bahwa uang tidak memiliki pengaruh terhadap sektor riil, suku bunga, kesempatan kerja dan pendapatan nasional. Uang hanya berpengaruh terhadap harga barang. Bertambahnya uang beredar akan mengakibatkan kenaikan harga saja, sedangkan jumlah output yang dihasilkan tidak berubah. Teori permintaan uang Klasik. dikenal dengan teori kuantitas uang yang dirumuskan oleh Irving Fischer dan dikembangkan oleh Marshall.
Sementara itu Keynes dalam teori permintaan uang kasnya membedakan antara motif transaksi, berjaga-jaga serta spekulasi. Keynes juga mengakui adanya motif transaksi, namun dia mengakui bahwa motif spekulasi lebih berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi. Kelompok Keynesian menyatakan bahwa suku bunga merupakan fenomena moneter. Perekonomian diharapkan melakukan penyesuaian dengan suku bunga yang telah ditetapkan oleh sistem moneter bukan sebaliknya.
Kaum monetaris yang dipelopori oleh Friedman mencoba menghidupkan kembali teori kuantitas uang Klasik dengan membuat suatu pernyataan bahwa teori kuantitas uang adalah teori permintaan uang bukan teori tentang penentuan produk, pendapatan, maupun harga. Bagi seorang pengusaha, uang merupakan barang produktif, sehingga teori tentang permintaan uang dapat dipandang sebagai teori tentang modal (capital theory).
Metode Penelitian
Model yang di pakai dalam penelitian ini adalah:
- = f (Yt ,EXt ,rt ,It )
dimana Md, Yt, EXt , rt dan It masing-masing menunjukkan permintaan uang M1, nilai nominal pendapatan nasional, nilai tukar terhadap dolar, tingkat suku bunga pasar dan tingkat inflasi.
Hasil Penelitian
Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat adanya kondisi non stasioneritas pada data time series yang dipergunakan dalam penelitian. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakstabilan kondisi perekonomian di Indonesia. Hasil estimasi jangka panjang dengan VAR menunjukkan masing-masing variabel (M, Y dan ER) dipengaruhi oleh variabel itu sendiri yang konsisten pada satu kuartal sebelumnya.
Adanya volatilitas nilai tukar rupiah sangat mempengaruhi permintaan uang M1 Indonesia. Salah satu solusi yang banyak disarankan adalah agar Bank Indonesia selaku otoritas moneter menetapkan strategi dengan target nilai kurs. Starategi ini dipandang efektif sebagai upaya untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Bank Sentral dibutuhkan untuk mempertahankan nilai tukar yang tetap agar mata uang dari negara yang banyak melakukan perdagangan (baskets of trading partner currencies) terjaga tingkat kestabilannya.
[1] Mahasiswa Febi Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta