REVIEW BUKU : SEKOLAH DIBUBARKAN SAJA

OPEN THE BOOK!!!
(JANGAN BOSAN BACA BUKU, BERITA ATAU ARTIKEL LAINNYA. MENJAGA KEWARASAN MEMINIMALISIR PEMBODOHAN)
DEPARTEMEN SOSIAL POLITIK, DEMA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

Judul Buku ​: Sekolah Dibubarkan Saja
Penerbit ​: CV Jalan Baru
Penulis ​: Afdillah Chudiel
ISBN ​​: 978-623-90739-0-9
Halaman ​: xxii, 159 hlm
Harga ​​: -
Tahun ​: 2019 (cetakan pertama)

Review Isi Buku
Dalam buku ini penulis berusaha untuk memunculkan pemikiran kritis dari pembaca, dimana pokok persoalan yang diangkat adalah pendidikan. Pada buku ini terdapat sebelas bab, dengan Prolog sebagai awalan serta Epilog sebagai akhiran. Masuk pada bahasan pertama, yaitu “Bab: Anak yang Beruntung” dalam bab ini pembaca akan disuguhkan fenomena dimana pendidikan tidak akan berarti apa bagi mereka yang berfikir perihal manfaat dan hasil secara langsung. Pembaca akan diajak merenung, dimana pada bab ini pembaca akan menemukan kasus seorang anak yang telah dua kali tinggal kelas, hilang semangat belajar akibat diolok oleh gurunya, serta lingkungan yang tak begitu supportif yang mengakibatkan anak tersebut berhenti sekolah, dan kasus lainnya.
Kemudian pada “Bab: Sekolah Dibubarkan Saja” pembaca akan disajikan narasi dari tokoh yang ada dalam buku tersebut, dimana mereka mengeluh perihal bosan untuk sekolah, capek dengan banyaknya peraturan, tuntutan nilai tinggi dan lain sebagainya, namun dari sekian hal tersebut tak lain untuk meningkatkan prestasi sekolahnya tetapi yang terkenal malah kepala sekolah dan guru-guru. Mereka melihat sekolah sebagai pencipta peraturan-peraturan yang mereka anggap aneh, mulai dari seragam, model rambut dan cara belajar. Selalu berorientasi pada nilai dan prestasi ditambah budaya kompetitif tidak sehat yang dikembangkan, siswa dituntut untuk selalu jadi yang terbaik sementara caranya, silahkan cari sendiri.
Selanjutnya “Bab: Sistem Pendidikan yang Aneh” pembaca akan menemukan narasi bahwasanya sistem pendidikan di Indonesia telah membuat ribuan anak dari generasi terbaik di negri ini kehilangan mimpi dan cita, bukan karena tidak mampu dan bukan karena tidak pintar, akan tetapi karena sekolah telah membangun sebuah sistem yang aneh. Bahkan akhirnya mengubah pandangan mereka tentang sekolah, segala kebaikan yang mereka yakini pupus, kecurangan dan kelicikan akhirnya menjadi kebiasaan, dosa pun dikaburkan. Beberapa orang dari mereka mencoba bersuara, tetapi tetap saja tidak terdengar. Mereka hanya mampu berbisik ditengah riuhnya suara orang-orang yang terjebak dalam sistem feudal. Bertanya adalah tabu, membangkang adalah dosa, kreatif adalah memalukan, diam adalah emas dan penurut adalah membanggakan. Begitulah gambaran sederhana dari sistem pendidikan Indonesia.
Pada bagian “Bab: Sekolah yang Membunuh” ini pembaca akan disuguhkan dengan bagaimana tidak mutunya perintah untuk menentukan jurusan (IPA/IPS) padahal sistem sekolahlah yang nantinya akan tetap menentukan hal tersebut. Stereotype yang menekankan bahwa IPA lebih unggul dan merupakan kasta tertinggi dari penjurusan pendidikan di Indonesia dari pada IPS yang merupakan kasta kedua adalah pandangan yang sempit dan tidak mendasar. Hasil dari pandangan tersebut mengakibatkan banyak cita-cita menjadi korban. Bagaimana tidak, siswa yang ingin menjadi sastrawan yang menginginkan focus pada pembelajaran Bahasa, malah dipandang sebagai hal yang tak lumrah karena menjadi minoritas, begitulah sempitnya pemikiran dari sistem pendidikan Indonesia.
Kemudian untuk “Bab: Pesta Pora yang Menyedihkan” menjelaskan bagaimana UN menjadi momok sekaligus ladang bisnis tatkala datang musimnya, pada bagian ini pembaca akan disajikan bagaimana fenomena yang sering terjadi tatkala musim UN sedang berlangsung. Bagaimana para siswa sibuk menyiapkan ujiannya sedangkan oknum-oknum orang dalam berusaha mencari celah untuk mendapatkan uang. Parahnya siswa-siswa yang telah mempersiapkan sedemikian matang, serta siswa dengan lebel sederet prestasi local dan nasional pun masih tergiur dengan hal seperti itu. Di awal mungkin mereka akan takut dengan apa yang mereka lakukan, namun ketika hasil sudah kelaur dan nilai tersebut menjadikan mereka lolos ke perguruan tinggi negri terbaik negri ini, ketakutan yang sebelumnya dirasakan seakan hilang. Bahkan perasaan malu ataupun menyesal dari hasil tersebut tidak sedikitpun tergambar diraut wajah mereka. Inilah pesta pora yang menyedihkan dari fenomena diatas.
Pada bagian selanjutnya, yaitu “Bab: Orang Miskin Dilarang Masuk” rupanya tulisan itu masih ada??? Terpampang jelas digerbang-gerbang sekolah negri ini semenjak puluhan tahun yang lalu. Menariknya tulisan itu tidak pernah pudar dimakan waktu dan tidak lapuk dimakan usia, bahkan napak semakin baru dan lebih cemerlang dari sebelumnya. Belakangan beberapa orang di negri ini mencoba untuk menghapus tulisan ini, tapi seperti biasa mereka kalah dengan orang-orang yang lain yang ingin mempertahankan tulisan itu tetap terpasang abadi di gerbang sekolah. Sebagian dari kita mungkin tidak percaya bahwa tulisan “si miskin dilarang masuk” benar-benar ada digerbang sekolah. Wajar saja, karena banyak orang yang tidak percaya. Namun bisa saja kita tidak melihatnya karena tidak memperhatikan atau karena tidak termasuk dalam kelompok orang-orang terlarang. Namun sampai saat ini hanya ada dua jenis orang yang pernah melihat tulisan ini, yakni orang miskin yang sering tersangkut dengan persoalan setiap akan masuk sekolah dan kelompok orang yang punya hati nurani.
Selanjutnya “Bab: Jalan Kemiskinan di Gunung Cerek” pada bab ini pembaca akan disajikan gambaran bagaimana perjuangan anak-anak di pelosok untuk menuntut pendidikan. Mereka sekolah dengan segala keterbatasan baik keterbatasan infrastruktur maupun perekonomian. Tinggal dipelosok dengan minimnya factor pendukung pendidikan menjadikan mereka berpegang teguh dengan segala tradisi primitive yang tentunya tdak membiarkan anak-anak disana berkembang dan maju. Kenyataan tersebutlah yang memperjelas bahwa keadilan tidak akan pernah ada di negri ini, meskipun hidup ditanah yang kaya dengan pimpinan yang saa, tetapi untuk mendapatkan hak yang sama adalah sebuah cerita semu.
Kemudian pada bagian “Bab: Pabrik itu Bernama Sekolah” ternyata selama ini terdapat pabrik yang jauh lebih hebat dan lebih besar dari pabrik yang menjadi ikon negri ini, pabrik itu bernama sekolah. Bukti lain dari kejayaan pabrik ini adalah, meskipun dipenuhi dengan segala kejanggalan dan keanehan tetap saja orang-orang tidak peduli, bahkan orang-orang terus saja mengagungkannya. Pabrik yang pertama adalah SD , dimana harus melalui 6 fase pengolahan yang masing-masing fasenya dilewati selama 1 tahun. Kemudian setelah lulus uji kelayakan dari pabrik SD bukan berarti menjadi barang jadi, supaya menjadi barang jadi harus masuk pabrik SMP. Ironinya setelah diolah 9 tahun dipabrik yang bernama sekolah belum juga menjadi barang jadi. Maka harus masuk lagi ke pabrik yang bernama SMA, dengan proses hampir sama dengan SMP. Ternyata sama saja, masuk pabrik SMA tidak menjamin menjadi barang jadi, akhirnya dituntut untuk pasuk pabrik lagi bernama Universitas, lebih parahnya lulusan Universitas tidak serta merta menjamin lulusan barang jadi.
Dan untuk bagian terakhir, yaitu “Bab: Kampung Siswa di Bibir Selatan Pagai” pada bagian ini pembaca akan menemukan narasi yang berbunyi “siswa kami disini, kebanyakan berhenti bukan karena mereka tidak mampu secara ekonomi, atau bukan juga karena bodoh. Kebanyakan mereka berhenti karena hamil diluar nikah dan setelah itu mereka memutuskan untuk pulang kampun” itulah gambaran yang melekat pada kampung siswa di bibir selatan pagai, Kampung Teleng namanya. Begitulah serba-serbi kehidupan sekolah dengan sistem pendidikan ataupun culture yang tidak begitu mendukung, mengakibatkan banyaknya fenomena yang terjadi.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler