Review buku : Merasa pintar, bodoh saja tak punya

OPEN THE BOOK!!!
DEPARTEMEN SOSIAL POLITIK, DEMA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

Judul Buku ​: Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya
Penerbit ​: Buku Mojok
Penulis ​: Rusdi Mathari
ISBN ​​: 978-602-1318-40-9
Halaman ​: xv, 226 hlm
Harga ​​: 68.000 (Pulau Jawa)
Tahun ​: 2019 (cetakan ke-enam)

Review Isi Buku
Pada buku ini pembaca dibawa untuk merenungi kembali bagaimana mereka bermasyarakat sekaligus beragama serta beribadah pada tuhan. Serial ini memiliki dua bab dan terdapat sub-bagian pada masing-masing bab, dalam bab pertama pada sub-bagian tepatnya halaman 6 buku terdapat narasi “Mat, sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalua manusia suka melakukannya, untuk apa diwajibkan, Mat?” hal yang dimaksud adalah puasa. Kemudian sub-bagian selanjutnya pembaca akan menemukan narasi “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah… lalu kapan kamu menyaksikan Allah?” kalimat yang senantiasa dilantunkan oleh muslim, hal sederhana namun multitafsir serat akan tanda tanya. Selanjutnya sub-bagian yang paling mencolok adalah pada halaman 25, dimana terdapat kalimat “Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya.” Persoalannya adalah bagaimana kamu akan mengenal Allah sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiriah, sedekahmu masih kau tulis dalam labarugi kehidupanmu, ilmumu kau gunakan mencuri atau membunuh saudaramu, kamu merasa pintar bodoh saja tak punya.
Kemudian pada bab kedua dalam sub-bagian halaman 116 terdapat kalimat “salatmu dan sebagainya adalah urusanmu dengan Allah, tapi sarkum yang yatim dan ibunya yang kere mestinya adalah urusan kita semua” dalam narasi tersebut terdapat tamparan yang sangat keras bagi muslim khususnya yang mana mereka hanya memikirkan bagaimana mereka beribadah dengan tuhannya sedangkan sauadara nya diluar sana membutuhkan uluran tangan dari mereka. Dan selanjutnya adalah sub-bagian pada halaman 138, terdapat narasi yang berbunyi “kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil pak salat? Orang yang puasa dipanggil pak puasa? Orang yang berzakat, pak zakat?” kebanyakan orang akan fokus pada tittle yang disematkan, jika sudah diberi gelar pak ustad, pak haji, ataupun sejenisnya tidak sedikit akan merasa bangga dengan gelar yang tersemat tersebut, sehingga cenderung lupa dari esensi beribadah dan bermasyarakat itu sendiri.
Dalam buku ini jelas sekali gaya kepenulisan khususnya bahasa yang digunakan cenderung sederhana dan mudah dipahami. Bahkan siapapun pembacanya akan masuk dan tertarik dengan gaya kepenulisan yang disajikan, kemudian alur yang digunakanpun juga cukup kompleks dan masuk akal. Buku ini sangat disarankana untuk dibaca, diluar kelebihan yang telah dipaparkan buku ini tergolong bacaan yang ringan dan bisa dijadikan tambahan koleksi literasi di rak buku pembaca.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler