FORNASMEBI pasca MUNAS ke III: enam kepala bisa apa?

Para pimpinan presidium nasional yang terpilih untuk pengemban amanah.
FORNASMEBI pasca MUNAS ke III: enam kepala bisa apa?
Rutinitas sore hari di kota Yogyakarta yaitu ngopi sambil menyelesaikan laporan pertanggung jawaban akhir periode Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tetapi, dalam benak saya masih kepikiran tentang agenda yang sangat luar biasa 3 bulan yang lalu di kota Solo, jika bukan karena sebuah tanggung jawab yang selalu membuat saya kepikiran sebenarnya malas untuk memikirkannya, bagi sebagian orang moment tersebut hanya sebatas ajang penambah jenjang organisasi dan forum silaturahmi saja.
Ketika mendengar sebuah nama Forum Nasional Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Islam sudah tidak asing lagi di telinga kita karena sudah berdiri sejak tahun 2017 sampai sekarang dan alhamdulillah baru saja terlaksana Musyawarah Nasional dan Jambore Ekonomi Syariah yang ke 3 di UIN Raden Mas Said Surakarta. Harapanya dengan pergantian kepengurusan FORNASMEBI yang ke tiga mampu membawa perubahan dan membawa nama forum tersebut lebih baik kedepannya. Terlaksananya MUNAS di Surakarta sangat menegangkan dan aktif sekali terbukti dari banyaknya peserta sidang yang melontarkan berbagai argument untuk memperbaiki AD/ART FORNASMEBI dan perangkat organisasi lainnya. Saya Abdullah selaku ketua DEMA FEBI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam menyambut datangnya munas atau bisa dikatakan bertemunya para ketua DEMA dan SEMA memberikan dampak baik dan meperbanyak keluarga. Persiapan yang kami lakukan dimulai dari membedah teks AD/ART, PO dan PA yang masih tidak relevan atau bisa dikatakan masih kurang bagus pada zaman kepengurusan 2019, sehingga bias dikatakan ada banyak perubahan yang harus dilakukan oleh kepengurusan selanjutnya.
Alhamdulillah berkat doa dan kerja keras walaupun harus menghabiskan beberapa cangkir kopi setiap harinya untuk membedah naskah tersebut bisa terlaksana dengan baik ketika di MUNAS. Kami tahu bahwa FORNASMEBI merupakan forum yang sangat produktif bahkan perihal administrasi saja sudah sangat jelas. Kepengurusan sebelumnya sudah merancang dan melaksanakan sebuah jenjang kaderisasi seperti Pelatihan Basis Nasional (PBN), Pelatihan Basis Organisasi (PBO) dan Pelatihan Basis Lanjut (PBL), ini merupakan gebrakan yang sangat radikal mengingat FORNASMEBI bukan organisasi kaderisasi namun dengan adanya jenjang kaderisasi tersebut mampu membuat struktur kepengurusan dari tingkatan bawah ke atas menjadi lebih rapi dan elegan. Namun entah kenapa setelah MUNAS di bulan oktober sampai hampir pergantian tahun belum ada kejelasan perihal TIM Formatur sendiri, ataupun structural kepengurusan. Saat saya ditanya oleh temen-temen mahasiswa jogja perihal perkembangan FORNASMEBI, saya pun bingung mau jawa apa, Gub bagaimana FORNASMEBI, kapan pelantikan? entah saya harus tertawa atau malu karena di dalam forum tersebut saya juga termasuk anggotanya.
Mungkin ini bukan permasalahan saya pribadi atau mahasiswa fakultas ekonomi uin suka yang selalu menanyakan, tetapi ini menjadi permasalahan seluruh anggota secara nasional yang bergabung dalam FORNASMEBI. Sebuah forum mahasiswa tidak mungkin, tidak ada grup di WA, saya bersama temen-temen mahasiswa lain selalu mempertanyakan perihal kejelasan tim formatur ini karena kami lihat sudah tidak baik-baik saja hingga saat ini. Mau di bawa kemana organisasi kita ketika di awal kepengurusan saja semangat untuk menghidupi sebuah organisasi tidak ada, padahal sudah tahun ini FORNASMEBI sudah memiliki enam presidium nasional, pertanyaan selanjutnya adalah kemana keenam presnas kami yang terhormat ini? Katanya siap membawa perubahan bagi FORNASMEBI dan meminta bantuan temen-temen calon penerus kepengurusannya, kalau kita saja tidak mau bergerak lantas bagaimana? sudah terlihat jelas ketika di dalam persidangan terjadi banyak permasalahan baik itu perbedaan gagasan dan hal lainnya seharusnya ini menjadi bumbu bagi presna untuk segera membentuk kepengurusan agar semangat memperbaiki FORNASMEBI tidak sebatas omong kosong belaka.
Seluruh anggota FORNASMEBI selalu menanyakan perihal formatur dan kelanjutan forum semenjak MUNAS tetapi hanyalah bayangan saja tanpa ada bukti yang sangat jelas, ketika kami bertanya melalui grup whatsapp FORNASMEBI maupun chat personal jawabannya selalu sama yaitu masih di rapatkan oleh 6 presidum yang terpilih dari perwakilan wilayah seluruh Indonesia. Hampir 3 bulan bahkan mau pergantian tahun dan rapat para presidium belum selesai? Perdebatan yang sangat panjang sekali. Saya jadi berfikir,sebenarnya memang benar ada rapat atau tidak sih?Sesulit apa pembentukan tim formatur, dan menyusun structural kalau kebingungan kenapa tidak bertanya ke anggota FORNASMEBI ?apa kami sudah tidak dianggap? Hal kecil yang paling sederhana yaitu adanya rapat perdana dari presidium baik untuk membicarakan tim formatur atau sekedar tegur sapa keluarga. Kabar yang saya dengar katanya 'bagi-bagi kuenya' belum selesai makanya permasalahan ini sampai molor. Hehehe ampun.
Mewakili seluruh perwakilan DEMA/SEMA yang tergabung dalam FORNASMEBI yang merasa resah dengan hal ini menuntut kepada seluruh presidium nasional mendesak secepatnya untuk menyelesaikan perihal Tim Formatur dan stuktur kepengurusan. Kami tidak ingin organisasi yang kami cintai ini hanya dijadikan sebuah batu loncatan saja tetapi forumnya mati. Alasan saya mendesak hal ini dikarenakan sebentar lagi pergantian kepengurusan di berbagai instansi dan kami tidak ingin FORNASMEBI kehilangan kebermanfaatannya untuk generasi setelah kami. Semoga di akhir Desember tahun ini ada titik terang, jika tidak jangan salahkan bila DEMA FEBI jogja akan membuat sentilan-sentilan lain yang tidak kalah pedasnya. Sehat selalu para ketua DEMA SEMA FEBI se Indonesia, mari kita kawal FORNASMEBI sampai titik darah penghabisan.