YALAL WATHAN BUKAN RACUN!

YALAL WATHAN BUKAN RACUN!
Oleh Solekhan
Mahasiswa Perbankan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Sekretaris Jenderal Forum Nasional Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis Islam
Demisioner Ketua Dema FEBI 2019
Kader PMII Ekuilibrium
Pada tanggal 29 September 2020 tepatnya pada hari selasa jam 20:00 wakil ketua PBAK FEBI menemui saya di warung kopi daerah sorowajan. Ada banyak diskusi yang kami lakukan, terlebih hal ini dikarenakan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) tahun ini yang sangat berbeda dengan PBAK tahun lalu. Ya, PBAK tahun 2020 menggunakan sistem online/daring, tentunya ini hal baru bagi civitas akademika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebenarnya tidak ada masalah apapun dari berubahnya sistem PBAK offline menjadi online, toh kita harus mematuhi protokol covid 19 agar bangsa ini mampu kembali sehat sebagaimana mestinya. Namun, ada satu hal yang membuat saya cukup terkejut dari laporan wakil ketua PBAK FEBI, yaitu adanya larangan untuk menyanyikan lagu Yalal Wathan pada PBAK tahun ini. Larangan tersebut sebenarnya tidak jelas sumbernya darimana, terbukti dari sikap Dekan FEBI yang menanyakan kepada Wakil Dekan III FEBI selaku penanggung jawab kegiatan PBAK, kemudian WD III pun berusaha mencari infomelalui grup whatsapp panitia PBAK dan terjadilah perdebatan disitu. Saya akan melampirkan bukti screenshot tersebut di kolom lampiran agar tidak ada dusta diantara kita.
Cukup aneh rasanya jika membaca keterangan keberatan terhadap adanya nyanyian Yalal Wathan di tengah-tengah PBAK (Pekan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan). PBAK tahun lalu, melalui rekam media seluruh mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga dengan khidmat dan kompak menyanyikan lagu Yalal Wathon di gedung multi purpose, berhubung tahun ini tidak ada tatap muka dalam PBAK maka lagu yalal wathan ini kemungkinan hanya akan di share melalui video-vodeo singkat. UIN Sunan Kalijaga memang lembaga pendidikan peguruan tinggi yang berada dibawah naungan kementrian agama dalam kata lain dibawah negara. Jika argumen yang dibawa adalah terkait tidak bolehnya suatu institusi negara dikuasai oleh satu golongan saja maka sah-sah saja hal ini permasalahkan, namun jika mengatakan bahwa Yalal Wathan dan Aswaja sebagai kedok untuk meracuni dan menanamkan bibit serta rasa ketidakadilan maka hal ini merupakan pelecehan terhadap negara dan Nahdhatul Ulama!
Kesetiaan para kyai NU dan Muhammadiyah dalam menjaga keberagaman indonesia tidak bisa terbantahkan. Mereka mewarisi tradisi dan budaya bangsa indonesia menjadi faktor utama utuhnya NKRI. Adanya kehidupan multikultural menjadi fakta yang diterima dan dihargai. Dan agama mampu menempati posisi diantara keduanya. Rasa cinta tanah air ini lah yang menjadikan jiwa nasionalisme hadir dan tumbuh di dalam kalangan pemuda, apa jadinya jika para pemuda bahkan tidak mampu memiliki rasa cinta terhadap negaranya sendiri? Mahasiswa baru memang mengalami berbagai macam pergolakan yang nantinya akan ditemui dalam jenjang perkuliahan. Pergolakan ide serta gagasan menjadi makanan sehari-hari yang mau tidak mau akan terus dinikmati sampai ia menjadi sarjana. Melalui PBAK inilah kampus mengenalkan budaya akademik dan budaya kemahasiswaan, yang saya ketahui budaya mahasiswa adalah baca, diskusi, kaji, tulis dan aksi. Sehingga sangat wajar jika kampus harus mendoktrin mahasiswa barunya agar sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dan tidak melenceng dari kodratnya. Selama doktrin yang dilaksanakan bertujuan baik dan tidak ada penyelewengan terhadap nilai yang dianut maka sah-sah saja dilaksanakan. Oleh karena itu, penulis menanyakan dimana letak salahnya jika kampus mengharuskan mahasiswanya cinta tanah air lewat lagu Yalal Wathan?
30 september 2020 seharusnya menjadi momentum bagaimana sejarah kelam jangan sampai terulang lagi. Bertepatan hari ini pula, seharusnya kita kembali mengevaluasi diri untuk terus memberikan yang terbaik untuk nusa dan bangsa. Berjuang mati-matian untuk mengibarkan sang saka merah putih agar tidak tergeser dengan ideologi yang dilarang. KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan seorang Kiai yang dikenal memiliki keilmuan di bidang fiqih, kiai wahab memiliki sifat lunak dan dinamis[1]. Berfikir dinamis dan kreatif menjadikan kiai Wahab layak untuk dijadikan panutan dalam berfikir. Sehingga dari tangan beliau muncullah gerakan gerakan untuk menentang penjajahan belanda melalui beberapa organisasi seperti Tashwiurl Afkar, Nahdlatul Watah, dan Nahdlatut tujjar. Adanya penjajahan yang semakin menyengsarakan rakyat membuat sebagian besar masyarakat sadar dan memiliki keberanian untuk melawan segala bentuk kedzaliman. Melalui lagu Yalal Wathan dan Syair Syubbanul Wathan inilah KH Abdul Wahab Chasbullah berusaha membangunkan jiwa nasionalisme masyarakat indonesia kala itu. Di dalam syairnya kita bisa melihat bahwa lagu tersebut mengisyaratkan untuk bela negara, memunculkan rasa iman dalam cinta terhadap negara. Lantas pada bagian mana yang menunjukkan bahwa lagu Yalal Wathan berusaha untuk meracuni dan menanamkan bibit ketidakadilan dengan kedok ASWAJA di ranah mahasiswa baru?
Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah memang memiliki ciri khas masing-masing dalam menyebarkan agama islam. Ada beberapa hal yang menjadikan kedua organisasi ideologi sosial kemasyarakatan ini memiliki perbedaan, namun bukan berarti kedua organisasi ini bermusuhan. Sejarah telah mencatat bahwa benteng terakhir NKRI adalah NU dan Muhammadiyah. Organisasi sosial keagamaan islam sesungguhnya ada banyak sekali muncul sejak zaman masa kolonialisme, namun yang bertahan dan tetap eksis menjaga keutuhan Indonesia dalam kiprahnya di bidang pendidikan islam adalah kedua organisasi tersebut[2]. dua organisasi tersebut merupakan aset umat islam indonesia yang bernilai strategis, dengan kredibilitas dan komitment yang kuat muhammadiyah dan NU dalam pengembangan dakwah dan pendidikan sudah teruji selama bertahun-tahun, melewati generasi ke generasi, dari zaman kolonialisme hingga revolusi industri 4.0, mereka memiliki porsinya masing-masing dalam menentukan sikap dakwah tentunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanah UUD 1945. Sudah selayaknya jika NU dan Muhammadiyah bukalah musuh bebuyutan yang harus dibenturkan satu sama lain. Justru musuh kita yang paling nyata adalah organisasi islam yang telah dilarang beredar di indonesia oleh pemerintah karena berkeinginan untuk mengubah haluan idelogi pancasila. Itulah yang seharusnya menjadi fokus utama kita untuk menghapus radikalisme dalam lingkup Universitas.
UIN Sunan kalijaga adalah lembaga pendidikan milik pemerintah, tidak ada yang bisa menyangkal hal itu. Keresahan yang terjadi adalah ketika Universitas milik negara hanya seolah-olah dikuasai oleh satu golongan saja, begitu maksud yang bisa saya tangkap dari hasil screenshot seseorang yang tidak sepakat dengan adanya lagu Yalal Wathan. Baiklah, saya akan memaparkan beberapa solusi untuk menanggulangi keresahan beliau. Pertama jika tidak ingin hanya lagu Yalal Wathan saja yang berkumandang di tengah heroiknya mahasiswa baru maka mintalah kepada panitia PBAK untuk memutarkan juga lagu sang surya, toh didalamnya juga terdapat nuansa-nuansa tauhid. Sehingga kedua lagu milik organisasi islam ini benar-benar bisa diresapi oleh mahasiswa baru. Keberanian dalam membela tanah air bercampur dengan rasa cintanya pada Allah dan Rosulnya. Cara yang kedua, selama lagu Yalal Wathan tidak dilarang secara resmi oleh negara maka siapapun berhak menyanyikan lagu tersebut karena memiliki nuansa perjuangan dan cinta tanah air, sehingga jika yang bersangkutan ingin melarang lagu Yalal Wathan maka mintalah negara untuk melarangnya, walaupun penulis yakin akan mendapatkan penolakan yang keras dari berbagai unsur element yang ada.
Terakhir penulis minta kepada seluruh element civitas akademika UIN Sunan Kalijaga untuk selalu mengedepankan sikap moderasi dalam berfikir dan menyampaikan pendapat sehingga diharapkan tidak ada oknum-oknum yang berusaha memecah belah persatuan yang telah ada. Tulisan ini hanyalah opini penulis semata ditambah dengan keresahan yang ada, tentunya ada banyak kekurangan dalam menyampaikan narasi, siapapun boleh menolak atau membantah opini ini. Penulis akan sangat senang jika ada yang berusaha mematahkan opini ini dengan opini yang lain, sehingga narasi akademik yang muncul benar-benar bisa dipertanggungjawabkan dan bukan hanya sebatas cuitan medsos saja. Pesan untuk mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga, maksimalkan lah seluruh waktu kalian untuk mengkaji hal-hal baru, jangan mudah terbawa emosi dan jangan sampai termakan hoax. Selalu tanamkan budaya mahasiswa; baca, diskusi, kaji, tulis dan aksi agar arah gerak kalian memiliki kepastian dan tidak terjerumus kedalam ideologi yang dilarang.
Ilmu dan bakti ku berikan, adil dan makmur ku perjuangkan!
Salam Mahasiswa!
Sumber Literasi:
Rizki Aynina “Sejarah dan perkembangan lagu syubbanul wathan tahun 1916-2019” skripsi UIN Sunan Ampel, 2019
Zainal Abidin, “menapaki distingsi geneologis pemikiran pendidikan (muhammadiyah dan nahdlatul ulama) STAIN Jurai Siwo Metro, 2015
Hairul Anam, “ASWAJA DAN NKRI: Upaya Mempertahankan NKRI melalui Aswaja” PAI Pascasarjana STAIN Pamekasan, 2014
Lampiran
unduh buktisreecshotIdihttp://bit.ly/yalalwathanbukanracun